Sabtu, 30 April 2011
Fitness Center Diubah Jadi Pembangkit Listrik
Memanfaatkan generator, Boesel telah mengubah sepeda statik yang ia sediakan di sana untuk menghasilkan listrik. Sepeda-sepeda tersebut juga ia jual pada mereka yang berminat untuk memiliki.
“Sebagian besar orang dapat menghasilkan listrik antara 50 sampai 150 watt saat sedang berolahraga,” kata Boesel, seperti dikutip dari DailyMail, 29 April 2011. “Listrik yang dihasilkan ini membantuk memasok energi bagi lampu, kipas, pemutar musik, dan TV layar datar di gym,” ucapnya.
Sejak mampu “memproduksi” listrik sendiri, Boesel menyebutkan, rekening listrik yang harus ia bayarkan turun hingga 60 persen. Secara total, pusat kebugarannya juga kini 85 persen lebih efisien dibandingkan pusat kebugaran lain berskala sama. “Salah satu tujuan kami adalah mengedukasi masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan,” ucap Boesel.
Boesel menyebutkan, sejak tahun 2009, pusat kebugarannya menyediakan hingga 36 persen kebutuhan listrik atau 37 ribu kilowatt. Ini setara dengan sekitar 37 ton emisi gas buang atau menghemat sekitar 131 ribu kilometer berkendara, atau menyelamatkan hutan seluas 60 kilometer persegi.
Di Green Microgym seluas sekitar 280 meter persegi, Boesel juga memasang panel surya, lantai ramah lingkungan serta kertas toilet daur ulang.
vivanews
Kamis, 28 April 2011
Tempat Paling Panas di Permukaan Bumi
Dasht-e Lut, kawasan paling panas di seluruh permukaan Bumi.
Secara geografis, dataran Iran dikelilingi oleh pegunungan dan terbagi-bagi menjadi sejumlah lembah kering. Dasht-e Lut, sebuah gurun garam luas di kawasan tenggara Iran merupakan salah satu cekungan gurun terbesar yang ada.
Gurun tersebut memiliki panjang sekitar 480 kilometer dan lebar 320 kilometer. Secara total, luas kawasan Dasht-e Lut mencapai sekitar 51.800 kilometer persegi.
Dasht-e Lut juga merupakan lembah gurun yang paling kering dan panas di dunia. Menurut catatan satelit NASA, ada salah satu kawasan di mana suhu permukaannya pernah mencapai 71 derajat Celcius. Ini merupakan catatan temperatur paling tinggi yang pernah terjadi di permukaan Bumi.
Kawasan itu disebut Gandom Beriyan (gandum yang terpanggang), luasnya mencapai sekitar 480 kilometer persegi. Seperti dikutip dari Earth Snapshot, 27 April 2011, penyebab tingginya suhu di kawasan itu adalah karena permukaannya ditutupi oleh lava gunung berapi.
Lapisan gelap tersebut menyerap banyak sinar matahari. Akibat adanya perbedaan temperatur dengan kawasan yang memiliki ketinggian berbeda di sekitarnya, pada kawasan itu terbentuk terowongan angin.
Bagian timur dari Dasht-e Lut merupakan dataran rendah yang penuh dengan kandungan garam. Di bagian tengah kawan ini terdapat pegunungan dan alur-alur paralel yang dipahat secara alami oleh angin yang panjangnya mencapai 150 kilometer dan tinggi hingga 75 meter.
Kawasan ini juga penuh dengan jurang dan lubang. Di sebelah tenggara, terdapat gurun pasir luas dengan bukit pasir yang mencapai ketinggian 300 meter. Bukit pasir di kawasan itu merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.
vivanews
RI Temukan Pembangkit Listrik Gelombang Laut
Krisis energi membuat sejumlah ahli berpikir untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Pembangkit yang mengutamakan uranium untuk menghasilkan daya ini dipandang mampu untuk menjawab tantangan energi nasional.
Namun, pascaledakan PLTN Fukushima Jepang akibat gempa dan tsunami yang melanda kawasan tersebut, penolakan akan pembangkit nuklir kembali bermunculan. Risikonya dinilai terlalu besar bagi Indonesia.
Fakta tersebut yang menyurutkan minat sejumlah politisi untuk membatasi atau menunda pembangunan PLTN di Jawa dan Sumatera. Konsekuensinya, ketersediaan energi nasional kembali menjadi pertanyaan mendasar.
Sebenarnya, peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan PT Perusahaan Listrik Negara, Zamrisyaf, telah menemukan sumber energi baru yang terbarukan berupa tenaga gelombang laut. Potensi ini diyakininya mampu mengatasi krisis listrik nasional. Hal terpenting, Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang-Sistem Bandul (PLTGL-SB) ini ramah lingkungan.
“Jika 20 persen saja panjang Pantai Selatan [Jawa] dimanfaatkan untuk PLTGL, maka didapat daya sekitar 6.500 Mega Watt,” ujar Zamrisyaf dalam wawancara tertulis, Kamis, 28 April 2011.
Kalkulasi tersebut berdasarkan potensi energi di Pantai Selatan yang rata-rata mencapai 40 kilo watt per meter lebar gelombang. Dibanding dengan PLTN, daya yang dihasilkan tidak jauh berbeda.
Seperti dimuat dalam pemberitaan VIVAnews.com sebelumnya, satu gram uranium menghasilkan 1.000 megawatt (MW) listrik setahun. Setara dengan penggunaan 3 juta ton batu bara dan dua juta kilo liter bahan bakar minyak (BBM).
Namun, biaya operasi dan konstruksi PLTN lebih mahal dibanding pembangkit lainnya. Setiap 1.000 MW daya PLTN membutuhkan US$4-6 miliar yang mampu membangun pembangkit listrik tenaga bayu berdaya 3.000-4.000 MW. Hal ini diperparah dengan masalah risiko radiasi yang bisa mengancam keselamatan manusia dan lingkungan.
Sejauh ini, temuan Zamrisyaf telah mendapatkan penyempurnaan lewat kerjasama dengan Institut Teknologi Surabaya (ITS). Menurutnya, kerjasama dengan ITS telah mengasilkan ukuran-ukuran yang akurat untuk sebuah rancangbangun PLTGL-SB. Terutama ukuran-ukuran dimensi ponton, berat bandul, dan panjang lengan bandul serta daya dan RPM yang dihasilkan.
Pada tahap awal, potensi maksimal dari satu unit PLTGL sekitar 125 kw. Bahkan diupayakan bisa mencapai mencapai 300kw. Ini berdasarkan perhitungan, berat bandul 10 kg; panjang lengan bandul 2 meter; periode gelombang laut rata-rata 3 detik mencapai ketinggian 1,5 meter; maka daya yang dihasilkan satu set bandul sekitar 25,2kw.
“Apabila satu unit ponton terdiri dari 5 set bandul, maka daya yang dihasikan oleh satu unit ponton mencapai sekitar 125 kw,” ujarnya.
Terkendala Dana
Jika tak ada halangan, PLTGL-SB temuan Zamrsiyaf akan diluncurkan 2013 mendatang. Produksi massal pembangkit ini bisa dilakukan mengingat teknologi dan bahan baku yang digunakan mudah ditemukan di dalam negeri.
“Sebenarnya tahun 2013 PLTGL-SB sudah bisa diluncurkan, tapi tergantung pendanaan untuk penelitian dan pengembangan. Tahun ini anggaran penelitian PLTGL-SB di PLN tidak tersedia dengan berbagai alasan,” ujar pemilik hak paten nomor HAKI P00200200854 atas pembangkit tersebut.
Ia mengaku, temuannya ini bisa diproduksi secara masal di sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut-Sistem Bandulan (PLTG-SB). Pembangkit ini pernah diuji coba tahun 2007 di Pantai Ulak Karang Padang. Alat yang dibangunnya mampu menghasilkan listrik sebesar 300 watt meskipun belum bisa dikatakan berhasil.
Cara kerja alat ini cukup menarik. Ponton yang berfungsi sebagai kapal mengangkut bandul yang terintegrasi dengan dinamo. Untuk menghasilkan putaran dinamo yang maksimal, bandul dibantu dengan alat transmisi double-freewheel dan dintegrasikan dengan bantuan rantai.
Setiap gerakan air laut akan menggoyangkan bandul sehingga menggerakkan double-freewheel untuk memutar dinamo menghasilkan listrik. Nilai investasi alat ini ditaksir setara dengan pembangunan PLTA.
Pada PLTGL-SB temuan pegawai PLN ini, turbin maupun bandul yang terpasang pada ponton sebagai wadah pengapung pembangkit tersebut tidak terkena air laut. Sehingga dari segi ketahanan alat ini akan lebih terjamin.
Bagaimana dengan PLTN? Seperti ditulis dalam laman ini sebelumnya, Dewan Energi Nasional (DEN) mensyaratkan tiga hal penting yang harus dipenuhi pemerintah jika tetap menjalankan rencana pembangunan PLTN. Tiga syarat itu yaitu aspek keselamatan dan lingkungan, partisipasi publik, dan aspek subsidi oleh publik yang harus dipenuhi agar PLTN bisa lebih pro masyarakat.
vivanews
Bintang Tercepat di Jagad Raya
Spinstars, bintang yang berotasi tercepat di jagad raya
Ini adalah bintang-bintang tercepat di jagad raya. Para peneliti memanggilnya sebagai Bintang Putar atau Spinstars. Putaran rotasi mereka mencapai lebih dari sejuta mil per jam atau 1,6 juta km per jam.
Menurut para peneliti dari Institute for Astrophysics dari Potsdam, Jerman, bintang ini terbentuk 13,7 miliar tahun lalu setelah dentuman besar dan pernah menjadi bintang yang sangat besar.
Bahkan ukuran massanya sampai delapan kali lebih besar daripada massa matahari kita. Namun, karena bintang raksasa yang terbuat dari gas hidrogen dan helium ini memiliki masa hidup yang singkat, ia mati muda.
Dalam sebuah laporan yang dimuat di jurnal Nature, Dr Christina Chiappini dan koleganya dari Insitute for Astrophysics di Postdam, memanfaatkan teleskop European Southern Observatory Very Large Telescope di Chile untuk mempelajari komposisi kimia dari beberapa bintang tua di galaksi Bima Sakti.
Mereka mempelajari rasio elemen kimia yang ada pada kluster bintang NGC-6522. Kluster bintang ini dipilih karena mereka cukup tua untuk membentuk unsur kimia asli seperti yang dihasilkan oleh bintang yang hadir pada generasi pertama.
Selanjutnya, Chiapini berkesimpulan bahwa bintang-bintang generasi pertama ini sangat masif dan berotasi dengan kecepatan yang sangat tinggi untuk mencapai derajat pencampuran elemen sehingga mereka bisa memproduksi elemen yang lebih berat.
Kalkulasi mereka mengindikasikan bahwa bintang-bintang generasi pertama ini berotasi kencang dengan kecepatan 500 kilometer per detik - atau 250 kali lebih tinggi daripada kecepatan matahari kita. Tak heran bila kemudian mereka menamakan bintang ini sebagai 'Spinstars'.
Seperti dilansir oleh situs berita ABC, Professor Mike Bessell dari Observatorium Mount Stromlo, milik Australian National University, paper Chiapini menjelaskan betapa pentingnya putaran atau rotasi pada bintang-bintang awal untuk memproduksi elemen-elemen seperti yang kemudian ditemukan di bintang-bintag generasi belakangan.
Selain konveksi yang dihasilkan dalam sebuah bintang menyebabkan adanya pencampuran, rotasi yang cepat menolong elemen-elemen yang baru terbentuk dan muncul di permukaan.
"Rotasi menolong bintang ini untuk memproduksi unsur Neon-22 dari Karbon pada pusat bintang. Unsur itu kemudian memungkinkan terbentuknya unsur yang lebih tinggi di bintang-bintang kita, yang secara normal hanya terjadi pada bintang-bintang bermassa rendah," kata Bessell.
Bessell menambahkan, unsur-unsur yang lebih berat terbentuk sangat awal di jagad raya ini, menyediakan bibit-bibit untuk terbentuknya hal-hal lain, belakangan.
"Ini memberikan kita pilihan lain untuk terciptanya unsur utama seperti nitrogen dan seluruh unsur yang lebih berat seperti timah dan seng. Semua unsur itu kita pikir belum akan tercipta, hingga lama sesudah itu."vivanews
Rabu, 27 April 2011
Boeing Siap Produksi Listrik 2,6 Megawatt
Boeing, salah satu produsen pesawat terbang utama dunia yang tengah membangun pesawat jumbo jet seri 787 Dreamliner telah menandatangani nota kesepakatan kerja sama dengan South Carolina Electric & Gas (SCE&G).
Penandatanganan kesepakatan tersebut memungkinkan fasilitas Boeing di South Carolina menghasilkan energi terbarukan yang beroperasi penuh.
Nantinya, dikutip dari EarthTechling, Rabu 27 April 2011, atap bangungan Boeing 787 Final Assembly akan dipasangi lapisan tipis panel surya yang dimiliki, dipasang, dan dikelola oleh SCE&G. Instalasi surya ini akan menghasilkan listrik berkekuatan 2,6 megawatt yang cukup untuk memasok sekitar 250 rumah.
Dari sisi kapasitas produksi, instalasi itu akan menjadi pembangkit listrik tenaga surya terbesar di kawasan tenggara Amerika Serikat dan menjadi pembangkit listrik tenaga surya terbesar keenam di negeri itu.
Sayangnya, meski mampu memproduksi listrik 2,6 megawatt, energi sebesar itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan Boeing. Dari kerja sama yang disepakati, SCE&G akan memasangkan sistem panel surya dan akan memasok seluruh energi yang dihasilkan untuk Boeing.
Instalasi itu hanya akan menjadi sumber listrik tambahan bagi sumber daya listrik utama yang digunakan oleh produsen pesawat tersebut.
vivanews